Pameran Seni Lukis, Tahta Untuk Rakyat Sultan HB IX, di Jogja Gallery Alun-Alun Utara

Pameran Seni Lukis, Tahta Untuk Rakyat Sultan HB IX, di Jogja Gallery Alun-Alun Utara
Pameran Seni Lukis, Tahta Untuk Rakyat Sultan HB IX, Di Jogja Gallery Alun-Alun Utara. Sabtu (17/4/2021)

JOGJAKARTA - Konon, saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX menandatangani Kontrak Politik dengan Pemerintah Penjajah Belanda, bertepatan dengan Penobatan beliau menjadi Raja Jogja, di tahun 1940-an, HB IX mendapatkan wangsit atau “Bisikan” bahwa Belanda 'Akan Angkat Kaki Dari Bumi Nusantara, sehingga tanpa ragu beliau langsung tandatangan tanpa menelaah isinya.

Hal itu yang menginspirasi seniman Bambang Heras yang lantas menuangkan momentum bersejarah tersebut kedalam lukisan diatas sehelai kanvas besar berukuran 140x200 centimeter memakai Akrilik, Cat Minyak dan Tinta China, diberi judul “Langit Biru Diatas Keraton Yogyakarta”, karyanya tahun 2021.

Kepada indonesiasatu.co.id Bambang Heras mengakui bahwa judul lukisannya itu bermakna “Belanda Akan Pergi”. Ternyata benar, pada tahun 1945, Belanda yang telah mencengkeram Ibu Pertiwi sangat lama yakni sekitar 350 tahun, atau empat generasi bangsa menjadi bangsa jajahannya, tanpa dinyana harus hengkang dari Bumi Nusantara, karena bangsa yang menjadi jajahannya yakni bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya dan mempunyai negara sendiri terbebas dari penjajahan, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, hingga kini. Sabtu (17/4/2021)

“Ketika Panembahan Senopati dan Ki Ageng Giring bermunajat di daerah Wonosari, maka muncul-lah Wahyu Degan-Gagak-Emprit. Perjalanan Mataram sampai Hamengku Buwono ke-9 itu menuju ke Indonesia Baru. Tahun 1940 HB IX dilantik menjadi Raja, tahun 1945 NKRI Merdeka. Di awal-awal posisinya sebagai Raja Jogja, HB 9 belum mempunyai peran yang krusial, tetapi beliau mengucapkan Selamat dan Mendukung Proklamasi Kemerdekaan NKRI. Di tahun 1949, NKRI diserbu Belanda sehingga Ibukota dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Saat itulah HB 9 berperan sangat penting, Dukungan dana dan material beliau berikan untuk Pemerintah NKRI yang berpusat di Yogyakarta. Disinilah arti Degan (Kelapa Muda) sebagai Munculnya sebuah Kekuasaan Untuk Rakyat. Gagak (burung Gagak) sebagai proses untuk Kembali Ke Rakyat, dan Emprit (burung Pipit) sebagai Dimensi Rakyat, Dimensi Orang Biasa, Dimensi Untuk Kesejahteraan seluruh warganegara, ” ungkap Nano Warsono 

Adapun makna puluhan Bola Mata pada lukisannya itu dimaksudkan, “Sultan Hamengku Buwono IX itu selalu menjadi Pusat Perhatian, baik oleh lawan maupun kawan. Hal itu tidak menutup kemungkinan beliau juga banyak musuhnya, namun beliau itu sangat pintar dalam melawan musuh-musuhnya, termasuk ketika menghadapi Belanda. Perlawanan HB 9 melawan Belanda tidak secara frontal, namun secara simbolis dan itu berhasil. Beliau ketika dilantik menjadi Sultan, yang biasanya disetiap pelantikan Sultan sebelumnya selalu didampingi oleh penguasa Belanda dan digandeng, beliau tidak mau digandeng. Itu perlawanan simboliknya. Salah satunya seperti itu. Beliau memang seorang pejuang sejati dalam konsep yang sangat tinggi, ” ujar Nano Warsono.

“Mestinya para pejabat negara banyak belajar dari HB 9 yang sebagai negarawan bukan memanfaatkan kekuasaan untuk dirinya sendiri. Itu yang saya asosiasikan dengan Degan-Gagak-Emprit, justru mengayomi, memberi ruang yang lebih banyak pada rakyat, mendengarkan rakyat, dan itu bukan hanya slogan. HB 9 minim slogan tapi banyak kenyataan yang beliau wujudkan, dari demokrasi, kemudian suksessor berdirinya negara ini, perjuangan beliau kepada generasi berikutnya lewat Pramuka. Singkatnya HB 9 lebih banyak Doing Something daripada Retorika, ” imbuh Nano lebih lanjut.

Bambang Heras dan Nano Warsono adalah dua dari 37 seniman lain yang diikutsertakan menggelar karya-karya mereka pada Pameran Seni Lukis bertajuk “Tahta Untuk Rakyat Sri Sultan Hamengku Buwono IX” yang digelar di Jogja Gallery Jalan Pekapalan Nomor 7 Alun-Alun Utara, Yogyakarta, pada 20 Maret hingga 25 April 2021.

Pameran Seni Lukis “Tahta Untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX” yang diinisiasi oleh Indro Kimpling dan kawan-kawan, sepenuhnya didukung oleh banyak pihak, resmi dibuka secara daring oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X pada Jumat, 19 Maret 2021, pukul 15.00 WIB dan dibuka untuk umum mulai Sabtu, 20 Maret hingga 25 April 2021, dengan jam buka pukul 10 pagi hingga 19 petang, setiap Selasa sampai Minggu, Senin Tutup.

Agung Setiyo

Agung Setiyo

Previous Article

Sejarah Singkat Topeng Lenggeran Wonosobo

Next Article

Kapolda Jateng Hadiri Musyawarah Pemilihan...

Related Posts