Berkenalan dengan Ustaz Mualaf di Balik Masjid Mirip Kelenteng Magelang

Berkenalan dengan Ustaz Mualaf di Balik Masjid Mirip Kelenteng Magelang
FOTO: Istimewa Maajid Al Mahdi Magelang

MAGELANG - Bangunan masjid di Kota Magelang, Jawa Tengah, ini sekilas tampak seperti kelenteng. Bangunan masjid ini rupanya dibangun oleh Ustaz Mahdi yang merupakan seorang mualaf.

Bangunan masjid unik ini juga berada di kawasan perumahan elite Armada Estate Kota Magelang, Jalan Delima Raya No 42 Magelang. Masjid bernama Al Mahdi ini mayoritas dicat warna merah, sedangkan di bagian genting dicat warna hijau.

Masjid ini menempati lahan seluas 290 meter persegi. Bangunan masjid berukuran 9, 5 m x 10, 5 m. Untuk masjid ini ditambah dengan tenda di luar mampu menampung sekitar 150 sampai 200 jamaah.

Masjid bernuansa seperti kelenteng ini dibangun oleh Ustaz Mahdi yang menjadi mualaf saat kelas 4 SD. Ustaz berdarah Tionghoa ini memiliki nama asli Kwee Giok Yong dan nama Indonesia, Budi Suroso. Kemudian setelah masuk Islam, namanya diganti menjadi Mahdi.

"Saya mualaf kelas 4 SD. Dulu saya kecil tinggal di Jakarta, saya ini anak nomor delapan dari delapan bersaudara, bungsu. Kakak saya pertama kali masuk Islam dikasih nama Taufik, yang kedua dikasih nama Hidayah, yang ketiga saya namanya diganti Mahdi, " kata Mahdi saat ditemui usai menjadi imam dan khatib salat Jum'at kemarin. Sabtu(17/4/2021).

Mahdi menceritakan saat masa kanak-kanak dia tinggal di Jakarta dan dikelilingi teman-teman beragama Islam. Meski begitu, Mahdi mengaku mendapat hidayah bukan karena ikut-ikutan.

"Saya tidak dipengaruhi oleh siapa-siapa, bahkan keluarga kita Tionghoanya kental sekali. Bahkan orang tua saya pun sudah wanti-wanti jangan sampai masuk Islam, " ujarnya.

Mahdi mengenang masa kecilnya kerap bermain di area mushola atau masjid sembari menunggu teman-temannya membaca Al-Qur'an. Saat menunggu temannya itu, dia mendengarkan orang yang membaca Al-Qur'an maupun membaca surat Al Fatihah. Saat itulah dia merasa hatinya menjadi tenteram.

"Zaman saya di Jakarta itu, setiap Magrib sampai Isya anak-anak nggak main di jalan, semua di mushola atau di masjid. Ya belajar Qur'an, jadi anak-anak semua ngumpul di masjid. Nah karena teman-teman saya Islam semua, saya nggak punya teman, akhirnya saya nungguin juga di masjid. Saya dengar suara Qur'an, suara bacaan Al Fatihah, suara ngaji, kok begitu dengar suara itu, hati saya ada yang beda, rasanya hati tenteram, rasanya enak gitu dengar suara Qur'an dibaca ternyata jawabannya ada di Qur'an, " urainya.

Pria kelahiran Surabaya pada tahun 1969 ini menambahkan, saat masih kelas 4 SD itulah dia dibimbing seorang gurunya mengucapkan dua kalimat syahadat. Dia mengenang pengucapan syahadat itu dilakukan tepat seusai salat tarawih, tepatnya pada 17 Ramadhan.

"Waktu itu kelas 4 SD, 17 Ramadhan bakda Salat Tarawih saya dibimbing baca dua kalimat syahadat oleh guru saya di Cengkareng, Jakarta. Nah dari situ orang tua saya nggak tahu, lalu setelah itu saya belajar dibimbing privat guru saya almarhum Habib Muhammad Bin Hasan Alaydrus, belajar terus sampai SMA, " katanya.

"Setelah itu, selesai pindah ke sini (Magelang), saya belajar kembali atas wasiat beliau di Solo. Di Solo saya belajar sama Al Habib Muhammad Anis bin Alwi Al Habsyi, setelah itu saya teruskan sampai sekarang belajar sama Habib Umar bin Husen Asseggaf, " tuturnya

Mahdi mengaku sunat dilakukan setelah SD menuju SMP. Ketika itu sempat mengelabui orang tua dengan dalih menjadi utusan dari sekolah untuk main basket di luar kota dan harus menginap.

"Saya sunatnya itu menjelang balig, orang dulu balignya agak telat, kalau sekarang balig cepat karena makanan, lingkungan. Saya waktu itu (sunat) pas dari SD naik SMP jadi liburan itu. Waktu itu sunat bukan seperti layaknya orang-orang, orang tua saya nggak tahu. Akhirnya saya berpikir keras bagaimana cara sunat, tapi nggak ketahuan, saya bohong sama orang tua, " kenang Mahdi.

"'Ma saya mewakili sekolah untuk pertandingan bola basket di luar kota jadi harus nginep dua malam'. Padahal nggak, sebetulnya saya pergi sunat sendiri, " ujar Mahdi mengenang percakapannya dengan ibunya.

Saat itu Mahdi menginap di rumah tetangganya. Selama dua hari itu dia merasa senang karena dibuatkan nasi kuning dan dua hari luka sunatnya pun mengering.

"Begitu sunat selesai, akhirnya saya ke rumah tetangga untuk ngungsi dulu. Saya dimasakin nasi kuning, jadi nggak tahu setelah dua malam sudah kering. Besoknya mau pulang kan senang lari-lari berdarah lagi. Akhirnya, mau nggak mau harus pulang, tapi jalannya sulit, begitu pulang saya ngaku terus terang sama ibu. Saat itu ibu bilang, 'Waduh kalau ketahuan papamu bagaimana?', " kenang pria yang saat ini menjadi Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Magelang itu.

Mahdi mengenang sang ibu memberinya saran dan membalut kakinya seolah-olah keseleo usai bermain basket. Hal itu untuk mengelabui ayahnya jika telah disunat.

"'Wis gini aja lah kakimu tak balut seolah-olah keseleo dikasih parem kocok itu bilang aja lagi main basket keseleo. Jadi papa saya nggak tahu. Alhamdulillah, ibu saya ini selalu dalam arif melindungi saya, saya dibelikan baju koko, kopiah. Alhamdulillah terbayar semua, seminggu sebelum ibu saya meninggal dunia dapat hidayah masuk Islam usia 75 tahun, akhir hayat membaca dua kalimat syahadat di Jakarta, " tutur Mahdi yang juga pengurus Ponpes Nurul Ulum, Payaman, Secang, Magelang ini.

Dia menambahkan, saat puasa Ramadhan ini masjidnya mengadakan pesantren kilat untuk anak-anak. Selain itu, tiap minggu ada kuliah subuh selama Ramadhan.

"Kuliah subuh hari Minggu, kalau anak-anak di sini kita bikin pondok pesantren kilat. Anak-anak kegiatan sekolah nggak ada (daring), di sini setiap jam 10.00 sampai zuhur, ada pelajaran fikih dasar, membaca Al-Qur'an dan sebagainya. Nanti sehabis asar dilanjutkan kembali dilanjutkan dengan buka puasa, " ujarnya.

Agung Setiyo

Agung Setiyo

Previous Article

Kapolres Salatiga: Penandatanganan Pakta...

Next Article

Situs Liyangan, Bukti Peradaban Mataram...

Related Posts